Benih Sawit

I.  FISIOLOGI BENIH

Kelapa sawit dibedakan ke dalam tiga tipe berdasarkan ketebalan cangkang (shell) karakter ini dikendalikan oleh gen mayor tunggal yang bertindak kodominan, karekteristik tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut :

 Karakteristik dari tipe buah kelapa sawit


Tipe
Karakteristik
Cangkang
Cincin Serabut
Genotype
Dura (D)
Tebal
Tidak Ada
Sh Sh
Tenera (T)
Tipis
Ada
Sh sh
Psifera (P)
Tidak ada
Ada
Sh sh

Perkembangan lignifikasi dari cangkang diwariskan secara kuantitatif dan dikendalikan oleh banyak gen, sehingga timbul berbagai variasi ketebalan cangkang di dalam masing masing masing tipe :

Didalam proses reproduksi hanya satu  yang hadir pada gamet atau sel kelamin, selama proses pembuahan, kedua gamet dari tetua jantan dan betina bersatu kembali dan tergantung kepada konstitusi genetik, genotype keturunan mungkin sama atau berbeda dengan tetuanya.


Pengertian yang jelas terhadap pewarisan sifat ketebalan cangkang buah membawa kesadaran tentang pentingnya penggunaan benih D x P dari sumber tanaman tetua yang baik (dura, tenera, maupun psifera), Tenera yang mempunyai kandungan minyak lebih banyak dibandingkan dura sebesar 30% merupakan varietas standar yang lebih disukai sebagai material tanaman komersial.
  • Persilangan Dura dan Psifera. Untuk produksi benih tenera dilakukan persilangan antara tetua dura dengan tetua psifera yang akan menghasilkan 100% tenera
  • Persilangan Bebas (Tenera dan Tenera) Untuk memperoleh benih tenera dari persarian bebas antara tenera dan tenera mengakibatkan turunnya hasil karena terjadi silang dalam (inbreeding), produksi tandan yang rendah karena adanya psifera serta produksi minyak yang renah karena adanya dura, produktifitas benih liar yaitu benih yang di peroleh dari persarian bebas, diperkirakan hanya mencapai 50% dari produktifitas benih legitim D x P atau lebih rendah lagi
  • Perubahan strategi penggunaan material tanaman pada industri kelapa sawit Indonesia dilakukan dengan hati hati dan selalu di dasarkan oleh data dan informasi yang jelas, hal ini dapat terlihat dari penggunaan material tanaman di perkebunan kelapa sawit  yang sampai tahun 1970 masih menggunakan material D x D; T x D; atau D x T sebagai sumber benih, dan dengan adanya data  bahwa rendemen pabrik (Industrial extraction rate) dari materia D x P adalah 20 – 30% lebih tinggi dari material D xD ; T x D atau D x T maka sejak tahun 1971 semua perkebunan menggunakan material D x P sebagai sumber benih
Untuk menilai kualitas benih kelapa sawit D x P yang dihasilkan oleh produsen penghasil benih (PPKS, Londsum dan Socfindo) tertentu perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut :
  • Silsilah keturunan
  • Standar seleksi yang digunakan
  • Proses produksi benih
  • Profil produksi
  • Komponen minyak
  • Karekteristik sekunder
  • Kepekaan terhadap penyakit

 A.    SILSILAH KETURUNAN
  1. Origin Dura Semua genitor yang saat ini ada di PPKS adalah dura deli yang berasal dari 4 pohon kelapa sawit kebun raya bogor, meskipun tidak ada alasan untuk mengkelompokkannya ke dalam berbagai populasi, namun penggunaan origin dura ini oleh berbagai lembaga riset telah menyebabkan terjadinya penghanyutan genetika (Genetic drift) yang sedikit banyak menimbulkan perbedaan diantara genitor. Kebanyakan dan pada umumnya dari genitor dura adalah dari ”populasi Marihat”  berdasarkan jumlahnya adalah memungkinkan untuk membedakan populasinya  ini menjadi beberapa origin, bahkan sub origin. Origin-origin tadi diberi kode berdasarkan nama kebun yang pertama kali menggunakannya sebagai genitor, yaitu marihat, tinjauan, dan dolok sinumbah. RISPA  adalah ”Populasi Marihat” yang berasal dari kebun marihat dan selanjutnya di seleksi oleh RISPA.  Kode-kode untuk sub-origin di dasarkan pada  nama genitor moyangnya (yang ditetapkan mulai tahun 1900-an) jadi kebanyakan genitor dura  adalah dari ”populasi Marihat” dihubungkan dengan genitor yang sama yakni ”533” Diantara genitor genitor ada yang berasal dari persilangan ”Pupulasi Marihat” dengan sumber sumber lainnyayaitu genitor yang tidak diketahui untuk orijin ”DS x ?” dan dengan SP 540T untuk orijin M-RISPA. Empat orijin deli lainnya tidak berhubungan dengan ”populasi Marihat” , ke empatnya yaitu ”origin Gunung Bayu” (asal Sumatera) , ”origin Dabou” (asal Sumatera di seleksi di Ivory Coast) ”orijin Socfin” (asal Sumatera di seleksi di Malaysia dan Ivory Coast) dan ”origin Dumpy atau ”origin Elmina” (asal Malaysia dan kemudian dipergunakan oleh RISPA) ”orijin Gunung Melayu” , sedangkan ”origin M-Dumpy dan ”Serdang” merupakan orijin yang relatif belum banyak mengalami seleksi.
  2. Orijin Tenera Sebahagian besar dari genitor Tenera yang ada di PPKS berasal dari Zaire, dan beberapa origin dapat dibedakan berdasarkan kebun atau pusat riset yang telah melakukan seleksi genitor moyangnya, dan genitor genitor tersebut antara lain :
  • Orijin ”Bangun” merupakan genitor-genitor yang berasal dari Bangun Bogor Rejo (Sumatera).
  • Orijin ”Dolok Sinumbah” yang merupakan orijin dari psifera terkenal seperti DS 76P atau EX.5. dan beberpa sub orijin dibedakan berdasarkan bentuk genitornya.
  • Origin ”Bah-Jambi” yang pada kenyataannya adalah sub orijin ”Dolok Sinumbah”  karena merupakan keturunan dari persilangan DS 76P dan DS 66P
  • Orijin ”Sungai Pancur” yang menghailkan tenera sangat terkenal, SP 540T
  • Orijin ”Sungai Pancur x Bangun” merupakan hasil persilangan SP 540T dengan psifera dari Bangun.
  • Orijin ”Yangambi” berasal dari populasi Yangambi yang telah diseleksi oleh IRHO

Populasi lain yang banyak digunakan adalah ”populasi Marihat” yang berasal dari Kamerun. Genitor-genitor ” La-Me”dan ”Yacobue” dari Ivory Coast, sedangkan genitor ”Nifor” berasal dari populasi Nigeria, genitor ”Dami” yang berasal dari Papua New Gunea merupakan genitor yang realtif belum diseleksi.

B.    STANDAR SELEKSI
  1. Skema Seleksi Berdasarkan hasil percobaan internasional yang menunjukkan persilangan inter orijin lebih baik dari pada intra orijin, maka PPKS mengadopsi metode seleksi yang disebut ”Reciprocal Recurrent Selection (RSS)” yang di kembangkan oleh ”Institute de Researches Pour les Huiles et Oleageneux (IRHO)”  Pada prinsipnya metode pemuliaan RRS adalah memperbaiki secara serentak daya gabung ”Combining ability”  dari 2 (dua) grup individu A dan B yang dicirikan dengan : a.  Grup A (dura) meliputi jenis kelapa sawit yang menghasilkan tandan sedikit tetapi dengan tandan yang besar.  b. Grup B (Psifera, Tenera) adalah kelapa sawit yang menghasilkan banyak tandan tetapi berukuran relatif lebih kecil Tanaman tanaman dalam grup A  disilangkan dengan tanaman dari grup B dan hybrida yang dihasilkan kemudian di tanam di pengujian projeni (comparative trial/progeny trial)   Pengujuan yang dilakukan akan dapat mengklasifikasi tingkatan family persilnagan (lini) dan mengevaluasi daya gabung genitor-genitor pada family tersebut yang pada akhirnya akan diperoleh suatu kombinasi hybrida yang terbaik, dan pada waktu yang hampir bersamaan sejumlah tanaman pada masing-masing grup dikawinkan sendir (selfing) dan disilangkan miasl DxD pada seleksi Dura dan T x T pada seleksi Tenera.
  2. Letak Produksi Benih dan perbanyakan klonal pada skema seleksi Metode RRS adalah suatu skema yang sangat menarik baik untuk program pemuliaan maupun produksi benih  dan klon kelapa sawit, dengan langkah langkah sebagai berikut :
  • Pemilihan tetua untuk memproduksi hibrida komersial di dasarkan atas pengujian projeni sehingga hanya hibrida-hibrida yang telah di uji yang disalurkan kepada konsumen.
  • Skema seleksi memungkinkan untuk mengeksploitasi se segera mungkin persilangan persilangan terbaik dan perbaikannya dapat dilakukan dengan ”selfing” tetua terpilih sehingga daya gabung khusus (specific Combining Ability/SCA) dapat di eksploitasi secara optimal.
  • Hibrida komercial dapat diproduksi menggunakan berbagai tipe persilangan dura diseleksi dura, dan begitu pula tipe persilangan Psifera/Tenera di seleksi Tenera.

Setelah berakhirnya siklus seleksi dimungkinkan untuk memproduksi benih dengan cara me-reproduksi secara pasti persilangan persilangan terbaik dari hasil hasil pengujian, serta meng-kawinkannya tetua yang mempunyai daya gabung umum (General Combining Ability) yang baik meskipun perkawinan tersebut belum lagi di uji.
Dengan menggunakan tanaman unggul dari hasil pengujian projeni dapat diperbanyak secara kultur jaringan dengan tingkat produktifitas yang realtif sama dengan ortet. Pemilihan tanaman unggul dilakukan dengan mengeksploitasi keragaman di dalam famili diantara famili-famili yang di uji pada pengujian projeni. Selain masalah masalah internal yang di hadapi perbanyakan klonal secara kultur jaringan, seperti abnormalitas pembuangan dan upaya scaling up, klon klon yang dihasilkan dari ortet yang dipilih dari pengujian projeni perlu di uji terlebih dahulu pada pengujian klonal sebelum di lepas secara komersial, sehingga dengan demikian perlu dimaklumi bahwa klon klon komersial belum dapat disebar luaskan dalam waktu dekat.

C.     KRITERIA PEMILIHAN

Pemilihan persilangan dengan Genitor. Pemilihan persilangan dengan genitor dilakukan bertahap sesuai dengan urutan prioritasnya yaitu :
  • Tahap Pertama Pemilihan dilakukan terhadap produksi minyak/ha yang di hitung dengan menggunakan dua faktor koreksi yaitu rendemen pabrik di hitung dengan mengkalikan prosentase minyak per tandan dengan faktor koreksi 0,855 dan produksi TBS di hitung dengan dasar 130 tanaman/ha (pada populasi 143 pohon/ha)  atau  bisa juga 123,5 tanaman /ha pada (populasi 130 pohon/ha). Produksi minyak per ha diperoleh dengan cara mengkalikan produksi TBS dengan rendemen pabrik periode 6 – 9 tahun, yang dianggap dapat menggambarkan potensi produksi selama masa ekonomis tanaman, dan ini merupakan prioritas utama untuk diperhatikan
  • Tahap Kedua Pemilihan dilakukan dengan mengenyampingkan semua persilangan persilangan yang laju pertumbuhannya meninggi sangat cepat, persilangan yang mempunyai laju pertumbuhan meninggi >85 cm/thn tidak dipilih.
  • Tahap Ketiga Pembuatan rancangan persilangan dilakukan terutama untuk menghindari adanya projeni yang peka terhadap penyakit tajuk, karena penyakit tajuk disebabkan oleh satu gen resesif, maka ditekankan untuk mengawinkan genitor-genitor unggul  tetapi tetap peka terhadap penyakit tajuk dengan genitor lainn yang resisten dan mempunyai susunan genotype homozygot dominan.
Pada pemilihan ortet, metode yang digunakan harus dapat mengestimasi secara akurat nilai ”genotipik ” setiap indivfidu tanaman, hal ini dapat dilakukan apabila varians lingkungan dan atau varians interaksi genotipe x lingkungan dapat diminimalkan.

Cara umum dilakukan adalah dengan cara seleksi indeks (6/9) atau secara smoothing.  Tingkat kepercayaan pada pemilihan ortet dapat meningkat apabila tanaman terpilih memperlihatkan komponen hasil yang unggul, seperti persentase mesokarp terhadap buah yang relatif mempunyai nilai heritabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil sendiri.

D.  PROSES PRODUKSI BENIH

Tekhnik produksi Benih

Tekhnik produksi benih kelapa sawit telah banyak di paparkan oleh para ahli, yang pada prinsipnya setiap tahapan dalam proses produksi benih adalah untuk menjamin diperolehnya benih yang memenuhi kriteria persentase perkecambahan tinggi, pertanaman yang homogen di lapangan dan legitimasi material yang dihasilkan.


II.  PENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH

Pusat penelitaian kelapa sawit (PPKS) adalah salah institusi resmi yang ditujuk oleh pemerintah untuk pengadaan benih kelapa sawit di Republik Indonesia Ini, yang mempunyai potensi 40 juta benih pertahun, proses pengadaan kecambah yakni dengan tekhnik fermentasi, perendaman, pemanasan dan perkembangan kecambah telah dapat mempercepat proses perkecambahan dan meningkatkan  prosentase  daya kecambah. Bila benih multi embrio dari benih kelapa sawit  D x P dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman, penggunaan benih palsu sebagai bahan tanaman akan menurunkan produksi minyak/ha sebesar 50% dan tertundanya waktu panen.

Prosedur pembelian dan pengadaan benih/kecambah kelapa sawit dari PPKS cukup sederhana yakni dengan membuat surat permohonan  pembelian kecambah yang ditujukan kepada Direktur PPKS  dengan melampirkan syarat-syarat administrasi, dan setelah melakukan pembayaran dengan kurun waktu 2-3 minggu kemudian kecambah sudah dapat disalurkan kepada pihak pembeli, dan untuk menjamin kemurnian kecambah yang disalurkan dan di terima pembeli, setiap pengiriman dilengkapi dengan surat pengantar, surat persilangan  dan surat pengambilan barang (DO), Pembeli kecambah harus mampu menunjukkan identitas diri yang jelas seperti KTP, SIM atau Passport atau surat kuasa dari perusahaan pembeli.

A.    PROSEDUR PEMBELIAN KECAMBAH
  1. Pembelian Kecambah  Pembelian kecambah kelapa sawit D x P maupun Dy x P dari PPKS dapat dilakukan oleh Perusahaan Negara, Swasta, koperasi  maupun perorangan
  2. Harga Kecambah Harga kecambah sewaktu waktu dapat berubah sesuai dengan ketentuan yang berlaku  dan harga kecambah adalah loko Medan dan Marihat, biaya transportasi pengangkutan kecambah di tanggung oleh pihak pembeli.
  3. Sistem Pembayaran Sistem pembayaran pembelian kecambah kelapa sawit di PPKS hanya dapat dilakukan di kantor PPKS jalan Brigjen Katamso 51 Medan, baik secara langsung ke Bendaharawan  PPKS maupun melalui ”Bank Draft”, dan pembayaran Bank Draft dapat dilakukan di bank yang ditunjuk, dan pembayaran di lakukan selambat lambatnya 2 (dua) minggu sebelum pengambilan kecambah.
  4. Prosedur pemesanan Kecambah. Permohonan pembelian kecambah melalui surat dengan tujuan ”Kepada Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit, dengan alamat Jl Brigjen Katamso No 51 Medan” dan pengambilan dilakukan minimal 6 (enam) bulan sebelum pengambilan kecambah
  5. Perlengkapan Administrasi.
  • Perusahaan Perkebunan Persyaratan untuk pemesanan Kecambah kelapa sawit oleh Perusahaan perkebunan meliputi
  1. Surat izin usaha perkebunan dari menteri Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia
  2. Surat Izin Peruntukan lokasi penanaman kelapa sawit dari Gubernur setempat
  3. Peta Lokasi perkebunan

  • Perseorangan
  1. Surat kepemilikan tanah dari instansi berwenang
  2. Surat Rekomendasi dari Dinas Perkebunan setempat.
   6.   Persyaratan pengambilan kecambah
  • Memiliki dan menunjukan Delivery Order (DO) yang di terbitkan oleh PPKS
  • Menunjukan surat kuasa dari perusahaan atau perorangan ke PPKS bagian Urusan Bahan Tanaman
  • Menunjukan bukti Identitas Asli dan memberikan copynya kepada petugas PPKS yang ditunjuk.
  • Menandatangai bukti pengambilan kecambah
B.     UPAYA MENGHINDARI PEMALSUAN

Untuk menghindari upaya pemalsuan dari pihak pihak yang tidak bertangung jawab terhadp produk Kecambah PPKS, maka PPKS telah membentuk berbagai upaya dan sistem penanggulangannya antara lain:
  • Administrasi pengiriman Pengiriman kecambah dilengkapi dengan surat pengantar, pengiriman dan Delivery Ordr (DO)  dan di beri nomor seri
  • Pengemasan/Packing Packing atau pengemasan dilaksanakan dengan mempergunakan peti dari bahan triplek ukuran 40x60x40 cm dan dapat menampung 7.000 sampai 10.000 kecambah, setiap peti kemas memuat uraian (contoh)


















C.  PERMASALAHAN PEMESANAN BENIH KECAMBAH
  1. Permintaan yang cukup tinggi Permintaan pembelian kecambah kelapa sawit oleh pihak ke dua, setiap tahun cukup tinggi dengan rata-rata pertahun antara 60 – 70 juta kecambah, sedangkan kemampuan rata rata produksi kecambah PPKS adalah 40 juta kecambah/tahun, oleh karena itu kebutuhan kecambah yang dapat di penuhi oleh PPKS hanya 70 – 80 % setiap tahunnya.
  2. Waktu Permintaan Pada umumnya perusahaan perkebunan  memesan pada waktu bersamaan, sehingga PPKS kesulitan dalam peng alokasian permintaan
  3. Permintaan yang mendesak Permintaan yang mendesak biasanya terjadi pada saat pemesanan dan pengambilan pada bulan yang sama, sehingga PPKS kesulitan pengalokasian permintaan dimaksud, karena alokasi 1 – 2 bulan di depan sudah di alokasikan kepada pihak lain. Karena proses produksi kecambah memerlukan waktu yang panjang, disarankan untuk pemesanan sebaiknya 6 bulan sebelum jadwal pengambilan.
  4. Kelengkapan adminsitrasi yang kurang sehingga PPKS tidak mungkin menyerahkan kecambah pada pihak pembeli, seperti kelengkapan peta, rekomendasi dari Gfubernur setempat dan lain sebagainya.
  5. Pada saat waktu pengambilan yang ditntukan pihak pembeli belum melaksanakan pembayaran atas pemesanan pengadaan kecambah, sehingga menghambat penyaluran kebutuhan pengadaan kelapa sawit.
  6. Adanya penundaan dari pihak pemesan, karena lahan untuk penanaman dan pembibitan kecambah belum siap, atau iklim yang kurang diperhitungkan, misalnya kemarau yang panjang dan sebagainya
  7. Adanya masalah transportasi yang belum disiapkan oleh pembeli atau adanya regulasi dari pihak pengangkut yang menunda jadwal pengangkutan karena sebab dan lain hal.


Pengawetan Tanah

I.     TERAS KONTUR 

Pada umumnya areal penanaman kelapa sawit di Indonesia terletak pada daerah yang banyak hujannya. dan tidak semuanya datar/flat. Pada bulan tertentu (musim hujan) dapat tejadi lebih air (water excess), tetapi pada beberapa lokasi dimana terdapat perbedaan musim hujan dan kemarau agak tegas terdapat pula kekurangan air (water deficit). Agar air hujan yang jatuh dapat ditampung, ditahan lebih lama agar meresap dalam tanah, persediaan air dalam tanah (water reserve) selalu cukup terutama pada musim kemarau dan untuk mencegah erosi maka dibangunlah teras, rorak, bente4ng, parit dan lain-lain dilapangan. Tindakan pengawetan tanah ini mutlak diperlukan terutama didaerah yang memiliki jumlah dan hari hujan besar pada lahan yang berombak, berbukit.

Pada daerah datar yang diutamakan adalah parit, drainase dan jembatan , sedangkan teras dan benteng tidak banyak diperlukan, Untuk mematahkan aliran air permukaan (run off) dan memperbesar daya infiltrasi air ketanah maka diperlukan teras. Teras ini juga berguna untuk meningkatkan daya simpan air, mempermudah pemeliharaan, tempat pupuk ditabur dan akan mempermudah pengmbilan hasil, sampai dengan kemiringan 8 derajat dbuat teras tunggal (individual/tapak kuda) dan diatas ini dibuat teras bersambung. Teras tunggal yang telah dibuat, berukuran 2x 1,5 meter dimana panjang menurut arah kountur dan lebar menurut  kemiringan dimulai 50 cm dibawah pancang.

Permukaanya dibuat miring kedalam dengan sudut 10 derajat, disebelah dalam dibuat rorak kecil guna penampungan air dan benteng kecil. Teras ini harus dapat diperbesar menjadi 3x3 meter. Teras bersambung dibuat berdasarkan derajat kemiringan,jarak antar kontur diambil dari rata-rata kemiringan, makin tinggi kemiringannya maka makin jauh jaraknya, lebar teras minimum 3,7 meter dan maksimum 4,27 meter dengan asumsi bahwa diameter batang 2,36 meter maka masih tersedia ruang masing-masing sepanjang 1,175 meter didepan maupun dibagian belakang pokok. Terutama pada areal kemiringan 14% maka teras sinambung ini sudah mutlak perlu, untuk kedapatan pokok per HA 128 dan 138 pokok misalnya maka jarak antar kontur dan jarak antar pokok adalah :

Tabel Jarak Antar Teras dan Tanaman

Jarak antar kontur (m ) pokok/ha
Jarak  antar  pokok  pada  kepadatan
128
136
7,0
7,3
7,6
7,9
8,2
8,5
8,8
11,1
10,6
10,2
9,8
9,5
9,1
8,8
10,3
9,9
9,5
9,2
8,8
8,5
8,2

Tabel Bentuk Pengawaetan Tanah

Kelas
 lahan
Kemiringan
Tindakan
Pengawetan
Derajat (º)
( % )
Rata
Agak miring
Miring

Sangat miring
0º - 3º
4º - 28º

29º - 45º
< 1%
1 – 6%
7 – 54%

55% - 100%
Tidak perlu
Benteng, rorak
Teras individu, tapak kuda dan teras kontur
Teras bersambung/ Kontur

Tabel Jarak Teras dan Kemiingan Persyaratan Teras 


Kemiringan ( º )
Jarak Teras ( m )
Kemiringan ( º )
Jarak Teras ( m )
0
8,16
25
9,00
5
8,19
30
9,42
10
8,28
35
9,96
15
8,45
40
10,65
20
8,68
45
11,54


1.  Tahap Pembuatan Kontur.
Penentuan pancang induk.Pancang induk adalah pancang dengan jarak tertentu dan tetap, tempat        dimulainya pembuatan kontur. Penempatan pancang induk dimulai dari puncak lereng kearah kaki lereng, sedangkan lereng yang dipilih adalah lereng dengan kemiringan dominan atau rata-rata terbanyak pada suatu areal, bukan lereng yang ekstrim (lereng paling terjal atau paling landai).

2. Penempatan pancang induk
Penempatan Pancang Induk pada lereng yang terjal akan mengakibatkan banyaknya kontur sisipan, sedangkan pada lereng yang landai mengakibatkan banyak kontur terputus, hal ini harus dihindari.    Jarak antar pancang induk : 8 m timbang air ( water pass ),
Prinsip Kerja.
Penentuan titik tanam pada kontur teratas (kontur 1) jarak antar titik tanam 9,2 m dan konstan.Penentuan titik tanam pada kontur berikutnya :                                  
  • Meletakan ujung tali ditengah-tengah antara dua tanaman pada kontur 1.
  • Menarik tali vertikal kebawah, ketika sampai pada kontur II dibelokan kekanan dan digeser-geser hingga sudut belokannya +/- 90 derajat.
  • Pada sudut ini merupakan titik tanam pada kontur II.
  • Ujung t6ali juga merupakan titik tanam ke2 titik-titik tanam tersebut diberi pancang tanam.

Penentuan titik tanam berikutnya adalah : pembawa ujung tali pada kontur 1 menggeser ketanah pada kontur 1 diikuti oleh 2 orang yang berada dikontur II, titik tanam terakhir ada pada kontur II merupakan titik siku-siku, dan ujung tali pada kontur tanam merupakan titik tanam baru.Untuk mendapatkan titik siku-siku pada titik siku pembawa ujung tali pada kontur 1 menggeser kekiri atau kekanan diikuti pembawa ujung tali. 

Untuk selanjutnya penentuan kontur, berikut prinsipnya sama dengan penentuan pada kontur 1 dan II. Pancang kontur dicabut bila pancang tanam sudah ditancapkan.Pancang induk dicabut jikatitik tanam terakhir telah selesai dalam 1 kontur.Pancang dapat digesr 1-2 meter untuk menyesuaikan letak dengan tanaman diatasnya agar tidak terletak segaris atau sejajar.


II.  BENTENG DAN RORAK

  • Dibuat pada tanah agak miring : 10 – 15 m/HK
  • Ukuran : lebar alas = 60 cm, lebar atas = 40 cm, kaki lima = 45 cm, tinggi 30 cm
  • Pedoman jarak horizontal antar 2 benteng :

Tabel Persyaratan Pembuatan Benteng/Rorak

Kemiringan
Jarak (m)
1%
2%
3%
4%
5%
6%
(0º34´)
(1º9´)
(1º44´)
(2º18´)
(2º52´)
(3º26´)
60
40
30
25
20
18

Cara pembuatan benteng
  • Tentukan titik pemancangan; pancang-pancang selanjutnya sesuai jaraknya
  • Parit digali, tanah galian di timbun memanjang dan bentuklah benteng sesuai ukuran
  • Parit (rorak) : lebar atas 50 cm, dasar = 35 cm, dalam 60 cm.

Tabel Kelas Lahan dan Pedoman Pengawetan Tanah
Kelas
 lahan
Kemiringan
Tindakan
Pengawetan
Derajat (º)
( % )
Rata
Agak miring
Miring

Sangat miring
0º - 3º
4º - 28º

29º - 45º
< 1%
1 – 6%
7 – 54%

55% - 100%
Tidak perlu
Benteng, rorak
Teras individu, tapak kuda dan teras kontur
Teras bersambung/Kontur



III.  TERAS INDIVIDO (TAPAK KUDA)
  • Dibuat pada tanah agak miring
  • Ukuran lebar = 4 meter
  • Prestasi kerja 2 – 3 st/HK
Cara pembuatan
  • Areal yang harus di buat tapak kuda dipancang menurut pancang tanam
  • Tapak kuda tepat pada pancang tanaman
  • Tanah bagian atas pancang digali
  • Kemiringan tapak kuda 10-15º ke arah bukit
  • Tanah ditumpukan ke belakang pancang kemudian dipadatkan


     Syarat dan Norma
  • Dibuat pada tanah agak miring
  • Ukuran lebar = 4 meter
  • Prestasi kerja 2 – 3 st/HK
Cara pembuatan
·         Areal yang harus di buat tapak kuda dipancang menurut pancang tanam
·         Tapak kuda tepat pada pancang tanaman
·         Tanah bagian atas pancang digali
·         Kemiringan tapak kuda 10-15º ke arah bukit
·         Tanah ditumpukan ke belakang pancang kemudian dipadatkan